Beberapa waktu yang lalu, sempat dilansir dalam salah satu media cetak nasional tentang masuk beberapa PTN. Kisaran biaya yang tercantum adalah 75-100 juta. Teramat mahal bagi ukuran masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan kondisi ekonomi Indonesia sendiri yang tidak dapat bertahan terhadap gempuran ekonomi asing.
Persoalan ini diperparah dengan akan dikeluarkannya kebijakan baru mengenai harga jual/tarif BBM yang rencananya diberlakukan akhir Mei 2008. Kenaikan tarif tersebut tentunya akan berpengaruh pada sektor lain. Tak hanya pangan, kesehatan dan pendidikan pun akan terkena pula dampak tersebut.
Yang paling memprihatinkan adalah perkembangan pendidikan. Saat ini pendidikan bukan lagi hadir untuk mencerdaskan dan mengangkat derajat manusia. Namun, ia hadir sebagai komoditas produksi baru, layaknya industri. Hal ini terlihat pada penetapan kebijakan biaya masuk beberapa PTN bergengsi di Indonesia. UGM misalnya, mulai tahun ajaran 2007/2008 menetapkan Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) minimal sebesar Rp 5 juta, dengan mengapuskan angka Rp 0 yang ditetapkan tahun sebelumnya. Dan mulai tahun ini, UGM hendak membuka kelas internasional pada beberapa fakultas. Kebijakan tersebut tentunya berdampak pada biaya yang dibutuhkan. Biaya tersebut nantinya akan dibebankan pada calon mahasiswa baru yang hendak menempuh kuliah di UGM.
Langkah inipun ternyata tidak hanya diterapkan di UGM. Beberapa PTN di Indonesia pun menetapkan langkah yang sama. Sebagai contoh, UI yang akan menetapkan biaya pangkal sebesar Rp 100 juta untuk beberapa fakultas (lihat KOMPAS edisi 12 Mei 2008). Terkait dengan kelas reguler, dapat ditentukan akan terjadi pula peningkatan biaya. Hal yang terjadi pula di UNDIP, UNS, UNAIR, dan beberapa PTN dengan biaya pangkal yang bervariasi.
Hal ini berdampak pada nasib generasi bangsa yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk dapat diterima di PTN yang diimpikan mereka harus melalui tes masuk dengan tingkat persaingan yang amat ketat. Belum lagi persoalan biaya yang dibutuhkan tiap semester.
Monday, May 12, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 comments:
iyo mas.... kuliah di Indonesia mahaaaall... gini caranya, piye cita2 Indonesia mau jadi bangsa yang pintar alias maju, kalau satu cara utamanya aja terhadang, dengan yang namanya 'biaya' gitu.....
Mangnya, di luar negri biaya ne lebih murah tinimbang di Indonesia yo, mas??
sama aja. cuman kalo di sana setara dengan apa yang didapat. bukan fasilitas yang dibanggakan, melainkan nama besar almamaternya. tahu Sorbonne University yang ada di Prancis? gedungnya tua banget. udah berusia sekitar 10 abad. tapi, di sana tempat dididiknya para ilmuan besar dunia, seperti Machiavelli, Cartesius, dll. bahkan Andrea Hirata aja lulusan sana. Wow, semoga Allah memberiku kesempatan kuliah dan menjadi almamaternya. Amin
Bai, tolong publikasikan undangan menulis jurnal di blogmu. Silakan ngopi di blogku.
salam,
sahabatmu
Post a Comment