Friday, July 25, 2008

Dengannya Aku Melawan

Cerca menggema dalam relung sadar
Mengiang bak gemuruh badai hancurkan mayapada
Menjebol tembok-tembok kuasa terakhir
Hingga meninggalkan luka dalam batin

Apakah semua harus berakhir dengan satu kata “kepastian”?
Padahal semua penuh dengan prasangka
Semuanya tidaklah memiliki kedigjayaan
Ia pun akan sirna dengan segala yang ia miliki

Hidup sangat bejat
Ia singkirkan segala yang tak disukainya
Jauh ke dalam lembah kenistaan
Dan tergeletak dengan luka memar sekujur tubuh

Oh….jagad dewa Batara
Sampai kapan kau biarkan mereka hancur
Tidakkah kau iba dengan penderitaan mereka?

Tangan mereka tak lagi kuasa meraih unsur terkecil dalam hidup yang kau ciptakan
Kaki mereka tlah lemah
Akibat terjatuh dalam jurang nista itu
Tubuh mereka pun tak lagi berbentuk

Maafkan aku dewa
Jika aku menggugat segala ciptaanmu
Aku hanya tak ingin ini terjadi
Namun aku pun tak mampu melawan

Lewat kata-kata, ya, hanya lewat kata-kata ini
Aku dapat melawan
Tubuhku tak lagi mampu untuk berperang
Melawan segala ketidakadilan ini

Terima kasih, dewa
Kau ternyata masih sayang padaku
Dengan memberiku sebuah senjata ini
Senjata yang tak pernah dapat terkalahkan, PIKIRAN


Dalam relung batin yang mulai sunyi
Ahmad Baiquni

3 comments:

gustinW said...

Dasar orang filsafat, kapan ya kamu nulis yg tidak membuatku berpikir 2 x?

Anonymous said...

Sayang senjata yang diberikan Tuhan itu tidak pernah kau gunakan. Kau lebih banyak tidur dari pada bangunnya. Kasihan Tuhan, dia memberikan senjata pada orang yang salah.

Kelik B21

Dea ANugrah said...

mas, jgn trlalu emosi dong...hehehe